HOMPIMPA CENTER HANYA MEMBERIKAN PELAYANAN TERAPI DI TEMPAT. HATI-HATI DENGAN PIHAK YANG MENGATASNAMAKAN HOMPIMPA CENTER.INFO PENGADUAN 0856-818-6024.TERIMAKASIH

You Are in The Right Hands ^_^

Foto saya
Bekasi, jati asih, Indonesia
Terapi Tumbuh Kembang Anak Hompimpa Center Merupakan suatu klinik komprehensif dengan pelayanan rehabilitatif dimana klinik tersebut dikhususkan pada pertumbuhan dan perkembangan anak secara dini serta pendeteksian dini apabila terdapat kelainan pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik, intelektual, masalah perilaku serta gangguan perkembangan lain pada anak seperti Autisme, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactive Disorder), Down syndrome, Cerebral Palsy, Mental retardasi dan gangguan perilaku lainnya.

Rabu, 28 September 2011

LIPUTAN ACARA WARNA TRANS 7 28 SEPT 2011 DI TERAPI TUMBUH KEMBANG ANAK HOMPIMPA CENTER

Siang itu, saya ditelpon oleh mba yuyum yang ternyata adalah kru trans 7. mba yuyum menanyakan tentang informasi mengenai anak-anak dengan gangguan keterlambatan bicara. secara singkat kami bertemu di klinik hompimpa center untuk lebih lanjut lagi.

mba yuyum menjelaskan detil untuk program acaranya. saya kemudian tertarik karena berdasarkan pada hal yang bersifat informatif bagi penonton. 
esokannya , syuting dimulai dengan mengambil beberapa shoot : sesi wawancara, konsultasi orangtua, penanganan terapi di Ruang Sensori Integrasi dan pengambilan gambar di rumah klien. 

berikut adalah kami berbagi capture dari videonya :








semoga informasi yang kami berikan bermanfaat bagi penonton trans 7..
semoga juga Hompimpa Center dapat terus berperan untuk membuat "mereka" maju dan mandiri :)

NB : special thanks to bunda rinie :) : " maju terus bunda, atah telah menunjukkan perubahan "
wassalam.

best regards,
wilma














Kamis, 16 Juni 2011

"Risiko Autis Bisa Diminimalkan"


Autisme adalah gangguan neurologis yang memengaruhi fungsi normal otak manusia dalam melakukan interaksi sosial dan komunikasi. Menurut Autism Society of America, orang autis biasanya menunjukkan kesulitan berkomunikasi secara verbal dan nonverbal, serta sulit berinteraksi dan beraktivitas sosial. Autisme muncul sejak tiga tahun pertama kehidupan.

Tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme di seluruh dunia.Kampanye dilakukan di seluruh penjuru dunia, dengan acara resmi di setidaknya 23 negara. Untuk mengenal lebih dalam mengenai autisme, Famega Syavira Putri dari Yahoo! Indonesia mewawancarai Fernando Cortizo, doktor dan peneliti dari Monash University, Australia. Dr Fernando juga menjabat sebagai CEO Autism Management Institute di Korea dan Malaysia. Berikut ini kutipannya:

Y!: Apa yang menyebabkan autisme?

Autisme bisa disebabkan tiga hal, yaitu faktor genetis, kromosom dan lingkungan yang memengaruhi anak mulai dari kandungan hingga setelah lahir. Faktor genetis tak dapat diubah. Hingga saat ini peneliti masih melakukan percobaan modifikasi genetis tapi belum membuahkan hasil.

Sedangkan penyebab yang berasal dari lingkungan bisa diminimalkan. Hasil penelitian kami menunjukkan, pada tubuh anak autis ditemukan logam berat yang jumlahnya bisa 100 kali lipat dari ambang batas normal.

Tubuh manusia dirancang untuk menyaring kelebihan logam berat dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. Tetapi sistem tubuh orang autis rupanya tak dapat mengeluarkan logam berat dan malah menyesuaikan dengan kelebihan tersebut.

Bahkan saat lahir, bayi sudah punya kandungan logam berat yang berasal dari ibunya. Logam tersebut bisa bertambah karena paparan bahan-bahan yang ada di alam, misalnya makanan. Ikan yang mengandung banyak merkuri, contohnya. Selain itu, ada juga pencemaran aluminium yang berasal dari peralatan masak, sedangkan kadar timbal dan logam berat lain bisa masuk ke dalam tubuh karena pencemaran udara. Mainan anak-anak juga bisa menjadi tak aman karena bisa mengandung logam.

Salah satu tindakan yang biasanya memberatkan tingkat autisme adalah vaksinasi. Kami sering menjumpai kasus anak-anak yang mulai menunjukkan gejala autisme setelah diimunisasi. Rupanya ada beberapa vaksin yang masih mengandung logam berat. Vaksinasi kemudian menjadi pemicu gejala autisme pada anak karena tingkat logam berat yang meningkat drastis, melebihi ambang batas yang bisa ditoleransi. Dalam hal ini anak laki-laki lebih rentan terpicu autisme akibat vaksinasi dibanding anak perempuan.

Y!: Bagaimana cara pencegahannya? Apakah vaksinasi tak perlu dilakukan?

Tak perlu ekstrem menghindari vaksinasi sebab bagaimana pun, vaksin tetap diperlukan untuk meningkatkan imunitas. Tapi sebagai pencegahan, jangan pernah melakukan vaksinasi secara bersamaan. Pastikan anak diimunisasi dengan vaksin yang bebas logam. Tiap habis vaksinasi, perhatikan apa ada perubahan tingkah laku anak. Jika ada, segera kontak dokter dan hentikan vaksinasi. Meski tak terjadi apa-apa, tunggulah tiga bulan untuk melakukan vaksinasi berikutnya. Beban berlebihan pada sistem anak akan merusak sistem imunnya.

Y!: Benarkah jumlah penderita autisme terus meningkat?

Dalam 20 tahun terakhir, jumlah yang tercatat memang semakin meningkat. Penyebabnya masih diteliti, karena bisa saja jumlahnya sebenarnya tidak meningkat. Angka itu bisa tampak lebih tinggi karena kesadaran akan autisme yang semakin maju -- kita bisa mengenali gejala yang sebelumnya tidak dianggap sebagai gejala autisme.

Saat ini di Indonesia rasio anak autis adalah 1: 250, artinya ada satu juta penderita autisme di Indonesia.

Y!: Ada berapa macam jenis autisme?

Spektrum autisme sangat bervariasi, mulai ringan sampai berat. Gejalanya berbeda setiap individu. Ada penderita yang tidak punya kemampuan mengekspresikan diri secara verbal, sulit berkoordinasi, ketidakmampuan belajar. Ada pula yang tidak mampu menciptakan ikatan dengan orang lain, sulit berintegrasi, tidak mempunyai kesadaran sosial dan lain-lain.

Meski demikian, beberapa anak autis punya keistimewaan dibanding anak-anak normal. Beberapa dari mereka punya IQ tinggi dan memiliki keterampilan khusus. Pasien saya ada yang pandai menembus password, ada yang bisa bicara beberapa bahasa padahal tak pernah belajar formal.

Y!: Apa saja terapi yang bisa dilakukan untuk autisme?

Terapi autisme yang baik tak hanya fokus pada penderita tapi juga lingkungan dan orang tuanya. Memiliki anak autis berarti komitmen panjang bagi orang tua yang harus selalu menanggung biaya hidup anaknya. Biasanya orang tua khawatir bagaimana anak ini bisa mandiri dan hidup tanpa tergantung orang lain, serta bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

Penyebab autisme dapat dilihat dari analisis DNA secara lengkap. Setelah pola spesifik ditemukan, bisa disusun apa yang menjadi penyebab dan bagaimana cara meminimalkannya. Terapi harus dilakukan secara spesifik dan berbeda antar individu.

Saya juga melakukan riset soal anti-penuaan. Saya menemukan bahwa banyak penderita autis yang menunjukkan gejala yang muncul pada orang yang menua. Contohnya kehilangan ingatan, alzheimer, tidak peduli dengan keberadaan orang lain. Maka kami melakukan riset untuk memodifikasi perawatan anti-penuaan untuk diberikan kepada anak autis. Untuk hasil terbaik, terapi harus dilakukan dengan modifikasi hormon, obat-obatan, menjaga asupan makanan dan bimbingan terapis.

Kami juga mengembangkan pemberian hormon oksitosin, yang biasa dikeluarkan secara alamiah oleh manusia saat sedang bercinta, kepada orang autis. Pemberian hormon ini ternyata efektif untuk meningkatkan kontak mereka dengan orang-orang terdekat. Misalnya, ada pasien yang tak mau mendekati ibunya. Setelah diberi hormon ini mereka mulai membuka kontak dan mulai mau disentuh dan dipeluk.

Y!: Haruskah memasukkan anak autis ke sekolah khusus?

Saya tidak akan menyarankan demikian. Terlebih jika itu berarti anak autis dicampur dengan penderita kelainan lain, misalnya down syndrome. Penderita autisme justru harus dibiasakan bergaul dengan anak-anak yang normal.

Y!: Dapatkah autisme disembuhkan?

Kami tidak memakai kata "sembuh". Tujuan terapi autisme adalah membuat penderita mampu mandiri dan memiliki tempat dalam kehidupan sosialnya. Mereka bisa sekolah, punya teman, belajar dan bisa maju. Komitmen untuk terapi ini memang jangka panjang, jika tak ingin dikatakan seumur hidup.

Dengan penanganan yang tepat, tidak mustahil penderita autisme bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik daripada orang yang katanya "normal". Saya kenal beberapa penderita yang berhasil menjalani kehidupan normal, punya anak dan mampu menghidupi dirinya sendiri.

Y!: Jika disebabkan gen, apakah autisme akan menurun?

Tidak demikian. Jika orang autis memiliki anak, belum tentu anaknya itu akan menderita autisme juga. Apalagi penderita autisme malah sudah memiliki pemahaman lebih baik tentang autisme dibanding orang awam, jadi saya rasa tidak akan berakibat buruk.

Y!: Bagaimana cara mencegah risiko autisme?

Harus ada pemahaman mendalam dari orangtua untuk mengurangi risiko anak terkena autisme. Contohnya, waspada saat melakukan vaksinasi. Hati-hati dengan potensi logam berat di lingkungan sekitar. Jangan paparkan anak dengan logam berat yang bisa ada di mainan, alat masak dan makanan. Hindari makanan cepat saji, makanan berpengawet dan berpenyedap rasa.

Lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi penyebab. Jika memungkinkan, hindari tinggal di daerah yang tercemar logam berat seperti dekat pabrik atau daerah berpolusi tinggi. Ibu hamil harus hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi, termasuk makanan yang mengandung Omega-3.

Meskipun autisme tak bisa dihindari, tingkatannya bisa diminimalkan dengan cara sederhana, yakni dengan menerapkan pola hidup sehat.

Orangtua Tak Perlu Malu Punya Anak Autis

detikcom - Jakarta, Memiliki anak berkebutuhan khusus atau anak autis memang menambah besar tanggung jawab orangtua, seperti memberikan perhatian yang khusus serta biaya yang juga ekstra. Orangtua tak perlu malu bila mempunyai anak autis.

Banyak orangtua yang merasa ketakutan anaknya akan terlahir autis. Bahkan banyak pula yang merasa malu dan akhirnya menelantarkan anaknya begitu saja atau bahkan ada yang dipasung.

Sebenarnya beberapa tanda autis bisa dideteksi mulai dari bayi lahir hingga anak berumur lima tahunan. Deteksi dini bisa mengurangi beban mental dan mempercepat penanganan anak autis.

"Autis itu bukan penyakit yang menular, tapi banyak orangtua yang malu kalau punya anak autis, hingga akhirnya dititipkan di panti, keluarga yang lain atau bahkan ada yang dipasung," jelas dr Suzy Yusnadewi, SpKJ (K), psikiater anak dari RSJ Grogol, dalam acara Aktivasi Pedulimu 'Untuk Kemandirian Autis Dhuafa' yang diadakan Rumah Autis dan Antam di Margo City, Depok, Sabtu (11/12/2010).

Menurut dr Suzy, stigma 'malu punya anak autis' itu ada dari masyarakat sendiri. Sebetulnya stigma anak autis sangat berbeda dengan gangguan jiwa yang lain.

Kebanyakan orangtua malu karena anak yang dilahirkannya tidak bisa berperan sama sekali. Apalagi dengan adanya autisme yang disertai retardasi (keterbelangkangan) mental yang kadang berperilaku mengganggu seperti ngiler, tantrum (teriak-teriak) atau marah.

"Orangtua tak perlu malu punya anak autis, justru anak autis itu juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, perlu juga diajak bertemu dengan orang banyak. Mereka juga harus bergaul," jelas dr Suzy yang juga berpraktik di di klinik Talenta Center.

Autisme memang tidak bisa disembuhkan, tetapi bila dapat dideteksi dini autisme bisa ditangani hingga individu tersebut bisa terinteraksi layaknya orang lain yang normal, walaupun masih ada tanda-tanda autismenya.

Menurut dr Suzy, bila diasuh dan ditanggani dengan baik, anak autis akan bisa berinteraksi layaknya orang normal, yang bersekolah, bekerja, mandiri dan bersosialisasi.

Yang menjadi masalah, menurut Dr Suzy, kebanyakan orangtua tidak mengetahui atau kadang menganggap remeh gejala-gejala awal autisme, sehingga kebanyakan terlambat menanganinya.

"Yang terpenting kenali anak Anda. Kenali perkembangannya mulai dari bayi. Bayi usia 0-1 tahun itu sudah bisa kok dikenali ciri-ciri autisnya. Dan semakin cepat diketahui maka semakin baik hasil penanganannya," lanjut Dr Suzy.

Dilansir dari Disabledworld Minggu (12/12/2010), berikut ini beberapa gejala autis yang bisa dideteksi mulai dari bayi hingga tahun kelima pertumbuhan anak:

Baru lahir
Sejak bayi, anak autis biasanya tidak bisa merasakan atau merespons kehadiran orangtuanya. Ia tidak akan tertarik untuk melakukan kontak mata dan cenderung tertarik dengan objek yang bergerak. Bayi autis juga lebih banyak diam dan tidak menangis selama berjam-jam.

Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang umumnya dicapai anak-anak dalam usia setahun antara lain berdiri dengan bantuan orangtua, merangkak, mengucapkan sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan, tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya.

Jika anak tidak dapat melakukan kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untuk waspada dan segera periksakan jika anak tak mencapai satu pun kemampuan umum diatas.

Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas jika anak tidak tertarik pada ibunya atau orang lain, jarang menatap atau tidak terjadi kontak mata, tidak menunjuk atau melihat pada objek yang diinginkan, tak dapat mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tangan atau mengayunkan tubuh ke depan-belakang, tidak suka bermain, sering berjalan berjinjit.

Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua, semua yang terjadi pada tahun sebelumnya di atas dengan tambahan terobsesi oleh suatu objek tertentu seperti mainan atau game, sangat tertarik dengan suatu rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau susunan benda terganggu, sensitif terhadap suara keras yang sebenarnya tidak mengganggu anak lainnya dan sensitif terhadap sentuhan orang lain seperti tak suka dipeluk.

Jika bayi memiliki salah satu atau beberapa gejala di atas, segera periksakan ke dokter spesialis untuk meyakinkan kekhawatiran orangtua dan meringankan beban mental sedini mungkin.

Rabu, 15 Juni 2011

DYSLEXIA

APA PENYEBABNYA?


Secara umum :
Penderita menggunakan otak bagian kanan daripada yang kiri untuk membaca dan mengeja.
Secara detail :
Dua kontribusi paling penting pada dyslexia adalah tidak dimanfaatkannya otak bagian kiri dan kekacauan jembatan jaringan di otak yang disebut corpus callosum. Tapi mengapa sisi otak bagian ini menjadi masalah? Karena , otak bagian kiri deprogram untuk mengerjakan hal-hal yang dibutuhkan untuk membaca , sedangkan yang kanan tidak.

Otak bagian kiri dapat :
• Meyamakan bentuk huruf dengan bunyinya
• Menangkap informasi yang datang dari rangkaian otak, seperti bunyi untuk sebuah kata-satu huruf setelah huruf yang lain daripada melihat sebuah kata sebagai suatu gambar.
• Memisahkan sebuah kata pada suara individu dan
• Pemahaman tata bahasa san kalimat.

Otak kanan berbeda. Perbedaan pada area dan tempat dan pola. Otak kanan tidak memahami bagian dari berbicara atau menjaga jalur dari penyebutan kata saat dikte. Otak kanan “membaca” sebuah kata seperti menggambar garis lurus yang diajarkan memiliki arti.-sketsa, tidak deretan dari suara.
Corpus callosum, adalah jembatan dari seluruh sel-sel saraf yang informasi dari sisi bagian otak didapatkan kebagian otak yang lain. Sesuatu yang kita lihat atau dengar menuju ke kedua sisi, tapi setiap sisi memiliki spesialisasi masing-masing. CC tidak hanya meneruskan informasi, CC membantu memutuskan bagian sisi yang mana yang tepat untuk menerima informasi itu dan mengirimkannya ke sana.

37 karakteristik Dyslexia
Kebanyakan penderita dyslexia akan menunjukkan 10 karakter dan perilaku. Karakteristik dapat bervariasi dari hari ke hari atau menit ke menit. Hal yang paling konsisten tentang penderita dyslexia adalah ketidakkonsistensinya.

Umum
• Periang, cukup pandai, artikulasi baik tapi tidak dapat membaca, menulis atau mengeja sesuai dengan levelnya.
• Sering disebut/ di cap malas, bodoh, ceroboh, kekanak-kanakan, masalah perilaku.
• Isn't "behind enough" or "bad enough" to be helped in the school setting.
• IQ tinggi, walaupun dites tidak secara tertulis tapi lewat bicara.
• Merasa kurang PD, mudah frustasidan emosi jika dihadapkan pada persoalan membaca atau tesdi sekolah.
• Berbakat pada kesenian, drama, music, olahraga, mekanik, pandai bercerta, menggambar, membangun struktur bangunan.
• Tampak seperti sibuk dalam dunianya sendiri atau senang berkhayal, mudah menyerah atau sering ketinggalan pelajaran.
• Sulit mepertahankan atensi
• Bagus belajar lewat eksplorasi tangan, peragaan, observasi dan hal-hal yang berkenaan dengan visual.

Penglihatan, membaca dan mengeja
• Sering mengeluh pusing atau sakit perut ketika membaca.
• Putus asa dengan huruf-huruf, angka-angka, kata-kata, urutan-urutan atau penjelasan verbal.
• Membaca atau menulis menunjukkan pengulangan, penambahan, kelalaian, penggantian dan terbalik-balik hurufnya, baik angka maupun kata-kata.
• Suka mengeluh dan beralasandan terlihat tidak bisa diam di kursi ketika membaca , menulis atau menyalin.
• Kelihatan terlihat kesulitan dalam penglihatannya walaupun tidak bermasalah pada matanya.
• Sangat tajam penglihatan dan mengobservasi atau kurang dalam hal depth perception dan peripheral vision.
• Membaca dan mengulang bacaan dengan sedikit pemahaman.

Pendengaran dan Bicara
• Memiliki pendengaran yang tinggi ; mendengar seseuatu yang dibicarakan orang lain, mudah distrak oleh suara-suara.
• Kesulitan menempatkan kata-kata, berbicara dengan kalimat terputus-putus; membuat kalimat tidak lengkap; gagap; pengujaran kurang baik dalam kata yang panjang, atau mengubah susunan kalimat, kata-kata dan suku kata ketika berbicara.

Kemampuan Menulis dan Motorik
• Bermasalah dengan menulis atau menyalin tulisan ; pola pegang pensil yang tidak benar ; tulisan jelek dan tidak terbaca.
• Clumsy, koordinasi kurang, kurang baik dalam bermain bola atau olahraga berkelompok ; kesulitan dengan kemampuan motorik halus atau motorik kasar.
• Anak bisa sangat pandai, sering bingung antara kiri dan kanan

Matematika dan Management Waktu
• Kesulitan untuk menyebutkan waktu, mengatur waktu, mempelajari urutan informasi atau tugas-tugas dan suka terlambat.
• Mengolah matematika tergantung dengan menghitung jari, mengerti jawabannya namun tidak dapat melakukannya di atas kertas.
• Dapat berhitung, namun kesulitan menghitung objek.

Memory dan Kognitif
• Sangat baik dalam long-term memory dalam hal pengalamannya, tentang lokasi dan mengingat wajah orang.
• Kesulitan mengingat untuk urutan, kenyataan dan informasi yang tidak terjadi secara nyata.
• Berfikir terutama dengan gambar dan perasaan bukan dengan suara atau kata-kata (internal dialog sedikit).

Rabu, 13 April 2011

Penyandang Autis Punya Kemampuan Visual Luar Biasa


Penyandang Autis Punya Kemampuan Visual Luar Biasa

Merry Wahyuningsih : detikHealth

detikcom - London, Orang dengan autisme ternyata mengembangkan bagian otak yang berbeda. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan visual penyandang autis berkembang sangat baik.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian besar penyandang autis memiliki kemampuan luar biasa untuk mengingat dan menggambarkan benda-benda secara detail.

Sabtu, 09 April 2011

Kenapa Anak Laki-laki Lebih Rentan Autis?

Senin, 21/02/2011 13:44 WIB

Kenapa Anak Laki-laki Lebih Rentan Autis?

AN Uyung Pramudiarja : detikHealth

detikcom - Washington, Dibandingkan perempuan, laki-laki lebih rentan mengalami autisme atau gangguan interaksi sosial. Sebuah penelitian menemukan kenapa anak laki-laki lebih banyak terkena autis.

Penyebabnya adalah hormon seks, karena laki-laki lebih banyak memproduksi testosteron sementara perempuan lebih banyak memproduksi esterogen.

Kedua hormon itu memiliki efek bertolak belakang terhadap suatu gen pengatur fungsi otak yang disebut retinoic acid-related orphan receptor-alpha atau RORA. Testosteron menghambat kerja RORA, sementara esterogen justru meningkatkan kinerjanya.

Terhambatnya kinerja RORA menyebabkan berbagai masalah koordinasi tubuh, antara lain terganggunya jam biologis atau circardian rythm yang berdampak pada pola tidur. Kerusakan saraf akibat stres dan inflamasi (radang) jaringan otak juga meningkat ketika aktivitas RORA terhambat.

Meski bukan menjadi penyebab langsung, kadar testosteron yang tinggi berhubungan dengan risiko autisme. Sebab, gangguan pola tidur serta kerusakan saraf akibat stres dan inflamasi di otak merupakan beberapa keluhan yang sering dialami para penderita autis.

Selain itu, sebuah penelitian di George Washington University menunjukkan bahwa aktivitas RORA cenderung lebih rendah pada penderita autis dibandingkan pada orang normal. Bukti ini menguatkan hubungan antara testosteron dengan risiko autis.

"Sejak lama testosteron diduga berhubungan dengan autis, namun belum pernah ada pembuktian molekuler tentang hal itu. Penelitian ini makin menegaskan bahwa hormon ini berperan besar pada autis," ungkap sang peneliti, Valerie Hu seperti dikutip dari Newscientist, Senin (21/2/2011).

Penelitian lain yang juga mengaitkan hormon seks dengan autis pernah dilakukan oleh Simon Baron-Cohen dari University of Cambridge. Ketika itu Cohen menyimpulkan risiko autis meningkat jika sejak dalam kandungan janin sudah banyak terpapar testosteron, misalnya karena pemakaian obat-obat penghambat esterogen.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Public Library of Science ONE edisi bulan Februari 2011.

Autis merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan anak yang bersifat kompleks. Penyebabnya antara lain gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak, sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi yang baik dengan lingkungan sosialnya.